Pemerintah Amerika Serikat mulai mengambil langkah konkret untuk menghadapi tekanan berat pada industri sapi potong. Menteri Pertanian AS Brooke Rollins mengatakan USDA menyiapkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat industri daging sapi, termasuk program pinjaman bagi pengolah daging skala kecil dan membuka sebagian lahan konservasi untuk penggembalaan setelah terjadi bencana alam dan kebakaran.
Langkah ini muncul setelah Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan akan mengambil tindakan untuk memungkinkan peternak memproses sapi mereka sendiri dan mengurangi dominasi perusahaan pengolah daging besar.
Masalah utama: populasi sapi AS berada di titik terendah
Harga daging sapi di tingkat konsumen AS telah mencapai rekor tinggi. Salah satu penyebab utamanya adalah kekeringan dan kebakaran yang menyebabkan populasi sapi AS turun ke level terendah dalam sekitar 75 tahun.
Pada saat yang sama, pemerintah Trump juga memperluas kuota impor daging sapi dengan tarif lebih rendah untuk menambah pasokan dan menekan harga. Kebijakan impor ini justru mendapat kritik dari kelompok peternak karena dianggap dapat menekan harga sapi domestik.
Fokus USDA: memperkuat peternak dan prosesor kecil
USDA menyatakan akan menyediakan guaranteed loans bagi usaha pengolahan daging yang lebih kecil, mengurangi hambatan regulasi yang dianggap membebani operator kecil dan independen, memberikan kesempatan penggunaan sebagian lahan konservasi untuk penggembalaan setelah bencana alam dan kebakaran, memperbaiki transparansi dalam pasar yang semakin terkonsentrasi, membantu membangun kembali populasi sapi AS.
Rollins menyatakan pemerintah ingin menyediakan modal dan perangkat manajemen risiko untuk membangun kembali โGreat American Beef Herdโ. Berita ini menarik jika dikaitkan dengan kondisi industri sapi potong Indonesia.
Apa pelajarannya bagi Indonesia?
Pertama, masalah industri sapi tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menaikkan atau menurunkan impor. Jika populasi sapi domestik terbatas, impor memang dapat membantu pasokan jangka pendek. Tetapi solusi jangka panjang tetap membutuhkan penguatan produksi dalam negeri.
Kedua, prosesor kecil dan menengah memiliki posisi strategis. Pemerintah AS justru melihat pengembangan rumah potong dan pengolah daging skala kecil-menengah sebagai salah satu cara meningkatkan persaingan.
Ketiga, akses pembiayaan sangat penting. Peternak atau pengusaha kecil sering memiliki aset berupa ternak dan lahan tetapi kekurangan modal untuk meningkatkan kapasitas usaha. Skema kredit yang tepat dapat menjadi pengungkit.
Keempat, integrasi rantai nilai semakin penting. Dengan demikian, semakin banyak nilai tambah yang dapat ditangkap oleh pelaku usaha di dalam negeri. Dikaitkan dengan kasus Santori.
Menariknya, berita USDA ini memiliki benang merah dengan studi kasus Santori yang kita bahas sebelumnya. Santori tidak bertahan selama puluhan tahun hanya dengan menjadi feedlot. Mereka membangun kemampuan pengolahan, branding, distribusi, dan pasar premium.
Artinya, ketika biaya sapi, pakan, energi dan nilai tukar semakin menekan margin, perusahaan mempunyai sumber pendapatan lain melalui penguasaan rantai nilai. Pelajaran besarnya bagi pengusaha sapi Indonesia: Jangan hanya berpikir bagaimana menjual sapi lebih mahal. Mulailah berpikir bagaimana menciptakan dan menguasai lebih banyak nilai dari seekor sapi.
Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan Anda dalam bisnis sapi potong dan sapi impor bersama Sapibagus Academy. Jadikan momen ini sebagai langkah awal untuk membangun usaha peternakan yang lebih profesional, terarah, dan berkelanjutan.
Jangan tunda kesempatan berharga ini ๐ค
Segera bergabung dan belajar bersama Sapibagus Academy dengan cara:
๐ Hubungi kami:
SASA: 0821-1902-7681
DIAN: 0811-980-221
๐ฒ Instagram: @sapibagusacademy
๐ Website: klik disini
๐บ YouTube: SBA Channel
Mari kembangkan skill, perluas jaringan, dan tingkatkan peluang sukses Anda di dunia peternakan bersama Sapibagus Academy โ Belajar Lebih Tepat, Bisnis Lebih Hebat.

