Proyeksi Kebutuhan daging nasional 2015 menurut Departemen Pertanian sebesar 450 ribu ton setara 2,85 juta ekor, sedang importer atau Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) mencapai 640.000 ton setara 3,4 juta ekor sapi atau meningkat 8,5% dibandingkan proyeksi tahun ini yang sebanyak 590.000 ton atau .3 juta ekor sapi. Adanya perbedaan proyeksi kebutuhan daging sapi ini, karena masing masing memiliki kepentingan yang berbeda.
Departemen Pertanian akan berusaha melindungi petani dari membanjirnya sapi impor, sebab sapi local akan kalah bersaing dengan sapi impor, terutama menyangkut harga dan jaminan pasokan. Apabila kondisi harga sapi local cukup menguntungkan, maka petani akan bergairah untuk memelihara sapi lebih banyak lagi dan akan meningkatkan populasi sapi. Namun sebaliknya bila harga sapi jatuh, maka petani akan lesu tidak bergairah dalam memelihara sapi, sehingga dikawatirkan terjadi penurunan populasi sapi.
Apfindo memiliki kepentingan untuk lebih banyak mengimpor bakalan sapi dari Australia, karena dengan semakin banyaknya sapi yang dipelihara, maka akan semakin banyak pula marjin yang didapat. Bila pasokan daging sapi cukup banyak, maka harga akan stabil dan konsumen akan diuntungkan, demikian cara pandangnya.
Namun bila dievaluasi pada tahun 2014 saat terjadi banjir sapi impor harusnya konsumen mendapat harga yang murah, tetapi harga daging sapi tidak mengalami penurunan yang berarti, harga masih relative tinggi. Dengan kondisi ini, ada pihak-pihak yang dapat memanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, yaitu feedloter dan para pedagang daging di pasar.
Untuk mengakomodir kepentingan kedua belah pihak, perlu dikomunikasikan supaya petani tetap bergairah memelihara sapi supaya mendapat keuntungan dan menjadi sejahtera. Demikian juga fihak Apfindo bisa memelihara sapi sesuai dengan kebutuhan pasar dan mendapat margin yang wajar, dan pedagang daging sapi dipasar dapat jaminan pasokan sehingga konsumen mendapatkan harga yang wajar pula.

