Industri Daging Sapi Australia di Bawah Tekanan Deforestasi

Ancaman Deforestasi dalam Industri Daging Sapi

Industri daging sapi Australia tengah menghadapi tekanan besar terkait isu deforestasi. Mulai akhir tahun 2025, Uni Eropa akan menerapkan regulasi ketat yang mengharuskan semua produk ekspor ke wilayahnya bebas dari lahan yang mengalami deforestasi sejak Desember 2020.

Peraturan ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon global, dengan menyoroti ekspansi lahan pertanian sebagai penyebab utama deforestasi, termasuk untuk peternakan sapi, kayu, dan kakao.

Pemerintah Australia berusaha agar negaranya dianggap sebagai wilayah berisiko rendah deforestasi, dengan mengklaim bahwa luas hutan mereka justru bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, aktivis lingkungan dan ilmuwan mengkritik klaim ini, menyatakan bahwa reforestasi tidak bisa menggantikan hilangnya hutan primer.

Referensi:

The Guardian, ‘Our Moral Responsibility’: Australia’s Beef Industry Under Pressure Over Deforestation as Election Looms (2025). (Sumber)

Data Deforestasi Australia yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan laporan Biro Ekonomi Pertanian dan Ilmu Sumber Daya Australia (ABARES), ditemukan fakta berikut:
✔ 1,74 juta hektare hutan ditebang dalam lima tahun hingga 2021.
✔ 1,24 juta hektare mengalami pertumbuhan kembali, tetapi sebagian besar adalah hutan muda yang tidak menggantikan fungsi ekologis hutan tua.

Sementara itu, menurut Prof. Brendan Mackey dari Griffith University, cara perhitungan ini menyesatkan. Ia menegaskan bahwa hutan tua yang ditebang dan diganti dengan penanaman baru tidak memiliki nilai ekologis yang sama, sehingga metode ini tidak bisa dianggap sebagai solusi nyata.

Referensi:

ABARES, Australia’s State of the Forests Report 2021 (Sumber)

Respons Industri Peternakan

Sebagai salah satu sektor terbesar di Australia, industri peternakan menyatakan bahwa mereka telah mematuhi 136 peraturan ketat terkait pengelolaan vegetasi.

Chris Parker, CEO Cattle Australia, menyatakan:

“Daging sapi berkualitas hanya bisa dihasilkan dari lahan yang sehat.”

Namun, data pemerintah New South Wales (NSW) tahun 2024 menunjukkan bahwa pertanian menjadi penyebab utama deforestasi, dengan lebih dari 420.000 hektare hutan telah ditebang dalam lima tahun terakhir.

Sejumlah peternak telah menerapkan metode lebih ramah lingkungan, seperti menanam kembali pohon, mengoptimalkan penggunaan pupuk biologis, serta menggembalakan sapi dengan sistem rotasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Referensi:

Australian Bureau of Agriculture Resource Economics and Sciences (ABARES) (Sumber)

The Guardian, Beef farmer Glenn Morris on sustainable land management (Sumber)

Tekanan Konsumen dan Pasar Global

Perhatian terhadap deforestasi kini semakin meningkat, termasuk di kalangan konsumen dan ritel besar. Beberapa supermarket besar di Australia seperti Woolworths dan Aldi telah menerapkan kebijakan bebas deforestasi, sementara Coles baru saja mengajukan komitmen serupa.

Nathaniel Pelle dari Australian Conservation Foundation (ACF) mengatakan bahwa sebagian besar petani mendukung keberlanjutan, namun masih ada segelintir peternak yang melakukan deforestasi dalam skala besar.

“Kami ingin mendorong perubahan, terutama bagi mereka yang masih menebangi hutan dengan cara yang tidak berkelanjutan.”

Referensi:

Australian Conservation Foundation (ACF) (Sumber)

Pelajaran untuk Indonesia: Membangun Peternakan Berkelanjutan

Isu deforestasi ini bisa menjadi pembelajaran bagi industri peternakan di Indonesia. Dengan semakin tingginya permintaan daging sapi, penting bagi peternak di Tanah Air untuk menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan dan mengoptimalkan lahan yang sudah ada tanpa harus membuka hutan baru.

Bagi Anda yang tertarik mendalami bisnis peternakan sapi, Sapi Bagus Acade…

Bagikan: